Dari Political Issue ke Fashion Statement

"Modest fashion looks of the month" versi majalah My Salaam, November 2017. [mysalaam]
Melihat sejarahnya, modest wear hadir di tiap era. Di beberapa negara di kawasan Asia, modest wear telah menjadi bagian dari gaya hidup setempat yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Namun, penafsiran akan busana yang sopan dan tertutup ini, termasuk penggunaan hijab, berbeda-beda di tiap wilayah. Maka, jangan heran jika hijab ala wanita Turki akan berbeda dengan hijab yang dikenakan wanita di Teheran, Iran, juga di Indonesia.

Elizabeth Bucar, associate professor of philosophy and religion di Northeastern University, melakukan penelitian etnografi di tiga kota di tiga negara muslim non-Arab, yaitu Teheran (Iran), Yogyakarta (Indonesia), dan Istanbul (Turki). Ia menemukan fakta yang menarik tentang penggunaan modest wear oleh para wanita.

Penulis buku Pious Fashion: How Muslim Women Dress ini menyebutkan bahwa ketiganya memiliki sejarah tersendiri dalam mengatur cara wanita berpakaian lewat aturan-aturan resmi. Peraturan-peraturan ini mencerminkan gagasan bahwa modest wear yang dikenakan oleh para wanitanya ini memunculkan perdebatan. Yang buruk melihat bahwa ini tanda wanita muslim harus banyak berkorban, sedangkan yang baik melihat bahwa pakaian ini menjadi simbol kehormatan dan moral.

Uniknya, meski selama 100 tahun terakhir perdebatan tersebut tak pernah usai dan diperuncing oleh elite-elite politik (pria) yang hanya menggunakannya sebagai sebuah agenda politik, aturan berpakaian pada wanita yang terlihat sebagai upaya untuk mengontrol wanita secara politik, justru wanita bisa membaliknya dan menggunakannya sebagai kritik sosial atau politik.

Di Teheran misalnya, pakaian Barat seperti denim dan baju brand Eropa menjadi simbol akan pengaruh budaya yang negatif, tetapi banyak wanita Iran yang justru mengenakannya kini sebagai simbol status.

Lain lagi dengan cerita modest wear bagi wanita muslim di Indonesia, yang secara historis tidak mengenakan penutup kepala. Rambut dan bahu yang terbuka merupakan bagian dari estetika keindahan dalam tradisi Jawa. Maka, meningkatnya popularitas modest wear belakangan ini tidak dapat dipahami sebagai kembali ke tradisi.

Maraknya penggunaan hijab usai lengsernya Soeharto juga dinilai sebagai kritik atas pemerintah yang puluhan tahun mengekang praktik mengenakan hijab bagi wanita. Seiring waktu, mengenakan busana tertutup dan hijab dinyatakan sebagai hal yang baru dan segar, sekaligus menjadi bentuk protes terhadap dikotomi cantik ala Barat.

Di Turki, karena dekat dengan wilayah Eropa, pengaruh Eropa sangat kental. Namun, wanita Turki modern tetap memiliki identitas muslim yang kuat. Mereka mengenakan modest wear yang sederhana dengan jilbab yang terlihat modern untuk menghindari pandangan bahwa modest wear itu kaku, kuno, dan ketinggalan zaman.

Perubahan modest wear dari waktu ke waktu dan adanya perlawanan pada stereotip bahwa modest wear itu kuno dan jelek telah mengubah wajah modest wear menjadi busana yang wearable dan gaya.

Munculnya karya-karya desainer yang fokus pada modest fashion juga mengangkat citra modest wear ke jajaran fashion dunia dan menjadi bagian integral pada perputaran tren dunia. Sama dengan jenis pakaian lain, dunia fashion menunjukkan bahwa pakaian santun yang serba tertutup tidak lagi memiliki batasan untuk siapa dan beragama apa.

Tidak hanya tentang modest wear-nya, model berhijab juga kini memiliki jalan sendiri di panggung runway. Brand H&M untuk pertama kalinya menampilkan model berhijab, Mariah Idrissi, tahun 2015, dalam video kampanyenya terkait sustainable fashion.

Penampilan Lindsay Lohan di London Modest Fashion Week mengenakan hijab dan munculnya nama-nama model hijaber seperti Halimah Aden (Kontestan Miss Minnesota 2016) dan Ikram Abdi Omar di runway menunjukkan bahwa modest wear telah mendapat tempat di panggung fashion week dunia. Para pelaku fashion dunia terlihat merangkul para wanita muslim dan mencoba menampilkan hijab lebih jauh di atas runway. (Faunda Liswijayanti, femina)

Post a Comment

0 Comments